Menonton tayangan tiga dimensi (3D) memang mengasyikkan. Teknologi
visual ini seolah memberikan pengalaman menonton yang berbeda dibanding
layar biasa. Pun begitu, ternyata 3D dinilai menyimpan efek negatif
untuk kesehatan anak di bawah umur.
Organisasi Kesehatan dan
Keselamatan Tubuh asal Prancis, ANSES, menyarankan agar anak-anak di
bawah umur 6 tahun tidak seharusnya menonton 3D.
"Selama sepuluh
tahun terakhir ini kami telah melihat perkembangan teknologi audio
visual 3D yang tumbuh pesat," papar laporan ANSES yang dikutip detikINET dari Games Industry, Jumat (28/11/2014).
"Seiring
dengan peningkatan substansial dalam persediaan film 3D di
bioskop-bioskop sejak pertengahan tahun 2000-an, telah diikuti pula
dengan pertumbuhan televisi, komputer, game konsol yang mengadopsi
teknologi serupa," tambahnya.
Larangan tersebut muncul karena
menurut ANSES dengan menonton 3D dikhawatirkan akan
merusak perkembangan
sistem penglihatan anak-anak ini.
Penelitian yang diterbitkan
awal November ini mengatakan bahwa terdapat sebuah proses pengolahan
sinyal 3D di pusat otak, yang dinamakan vergence-accommodation conflict, yang dapat merusak mata anak-anak.
Untuk
orang dewasa, biasanya efek yang ditimbulkan berupa mata lelah atau
sakit kepala ringan. Tapi, bagi mereka yang masih muda dan otak masih
berkembang, efek 3D bisa mengakibatkan respons negatif bagi mata dan
otak.
Maka dari itu, ANSES menyarankan jika anak di bawah umur 6
tahun belum saatnya mencicipi 3D. Sedangkan untuk anak di rentang 6-13
tahun boleh menggunakan teknologi 3D, asal tidak berlebihan.
Sumber : http://inet.detik.com/read/2014/11/28/140014/2762133/398/3d-berbahaya-untuk-anak-di-bawah-6-tahun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar